
Tak seorang pun manusia yang tahu dengan siapa dia akan berjodoh. Sebab jodoh merupakan rahasia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya. Sementara cinta adalah perasaan ingin memiliki sekaligus rasa takut untuk kehilangan. Rasa itu sering muncul dengan sendirinya tanpa ada rencana dari orang yang mengalaminya. Mereka yang merasakan cinta akan berupaya untuk mendapatkan, menjaga dan memiliki apa-apa yang dicintainya. Cinta yang hakiki adalah cinta yang diridhai oleh Allah SWT. Dimana mereka yang sedang jatuh cinta berkomitmen untuk saling menjaga dan tidak melampaui batasan-batasan yang telah Allah tetapkan. Menghalalkan cinta adalah dengan jalan pernikahan bukan pacaran. Cinta yang suci akan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan cinta yang salah akan cendrung mengajak kepada kemaksiatan, karena perasaan itu datangnya bukan dari Allah melainkan dari godaan setan.
Setiap orang pasti menginginkan jodoh yang terbaik dalam hidupnya. Begitu juga dengan Imran seorang pemuda yang sedang melanjutkan studinya di sebuah perguruan tinggi. Dia memiliki fisik yang biasa saja, tinggi, agak sedikit kurus dengan paras yang apa adanya. Imran merasakan jatuh cinta pada seorang gadis berhijab syar’i yang dikenalnya sejak 3 bulan yang lalu. Gadis itu bernama Ria Sartika, dia merupakan mahasiswa satu kampus dengan Imran namun beda jurusan. Ria memiliki kepribadian yang baik, taat beragama, pintar, tentunya yang pasti solehah sesuai dengan kriteria wanita idaman Imran. Disamping itu Ria juga memiliki paras wajah yang cantik meskipun dia tak pernah menggunakan make up. Imran yang tidak punya keberanian untuk menyatakan perasaannya pada Ria merasa minder dengan segala kesempurnaan yang dimiliki Ria. Dia merasa bingung lantaran tidak tahu harus berbuat apa. Pernah terbesit dalam benak pikirannya untuk menyatakan perasaannya kepada Ria. Namun hal itu tak pernah terwujud dikarenakan Imran takut bila perasaannya ditolak dan Ria tidak mau kenal dengannya lagi. Akhirnya dia menyimpan perasaannya itu jauh dilubuk hatinya yang paling dalam.
Imran yang sadar akan segala kekurangan yang dimiliki, membuatnya merasa malu dan merasa menjadi laki-laki yang tidak tau diri bila tetap menyatakan perasaannya kepada Ria yang kelebihannya hampir mendekati sempurna. Pupus sudah harapan Imran untuk berjodoh dengan wanita solehah idamannya.
Suatu ketika Imran mendengarkan tausiah yang membahas tentang jodoh. Dimana dalam tausiyah itu disampaikan bahwa “Wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah untuk wanita wanita yang keji pula. Dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik adalah untuk wanita wanita yang baik pula”. (QS An Nur : 26). Merasa jelas dalam firman tersebut bahwa Allah memberikan jodoh berdasarkan akhlak dari hamba Nya tersebut, Imran memutuskan untuk memperbaiki diri terlebih dahulu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan Nya agar kelak mendapat jodoh yang baik pula.
Hari demi hari mulai dilalui Imran dengan semangat memperbaiki diri. Dengan tekat yang kuat dari dalam hati Imran semakin taat dalam beribadah. Menjalankan ibadah yang wajib bukanlah menjadi beban bagi Imran karena dia menjadikannya sebagi kebutuhan. Ya, kebutuhan rohani seorang muslim. Bahkan disamping ibadah wajib itu ibadah sunah pun sekarang sering ia lakukan. Mulai dari yang kecil seperti memelihara jenggot, memotong kumis, sampai ibadah sunah yang berat seperti berpuasa dan sholat malam pun sekarang sudah seperti sebuah kebiasaan baginya.
Dia yang dulunya seringkali galau memikirkan soal perasaannya pada Ria sekarang menjadi tenang dan damai sejak ia menyandarkan hatinya kepada Allah. Namun bukan berarti perasaannya kepada Ria hilang. Perasaan itu tetap ada karena dia mencintai Ria bukan dari paras, harta atau pun keturunan melainkan karena akhlak mulia yang dimiliki Ria yang tak dimiliki gadis lain. Setiap perasaan akan menjadi beban bila tidak diekspresikan. maka Imran lebih memilih mengekspresikan perasaan tersebut dalam doa dan keluh kesahnya kepada Allah dengan bertahajud.
Selama Imran memperbaiki dirinya hubungan komunikasinya dengan Ria terbilang baik namun tidak terlalu intens, mengingat Ria bukan tipe gadis yang suka diajak chating berlama-lama. Dalam chating pun Imran sempat menanyakan “seperti apa laki-laki yang menjadi idaman Ria?”. Ria pun tentu menjawab “laki-laki yang ana inginkan adalah laki-laki yang soleh, tidak merokok, tidak pemabuk, tidak pejudi, bertanggung jawab terhadap keluarga, yang mau setia mencintai ana sampai ajal memisahkan, dan tidak menyakiti perasaan ana dengan berpoligami”. Kemudian Imran bertanya lagi apakah laki-lakinya itu kaya dan tampan?. “Ana tidak mempersoalkan masalah kaya atau tampannya, yang terpenting bagi ana dia itu laki-laki yang soleh yang bisa membimbing ana ke surga. Kalau pun dia kaya dan tampan ana hanya menganggap itu bonus dari Allah” jawab Ria. “Lalu apakah kamu sudah menemukan laki-laki yang seperti itu?” tanya Imran lagi. “Belum” jawab Ria. Kemudian Imran bertanya lagi “Seandainya laki-laki seperti itu sekarang kamu temui dan dia ingin melamarmu apa yang akan kamu lakukan?”. Kemudian Ria pun menjawab “ Bila memang dia jodoh ana maka ana akan terima’. “Lalu bagaimana dengan kuliahmu nanti? Apa kamu memang sudah siap menikah” tanya Imran. “untuk kuliah bagi ana itu bukanlah persoalan, kalau dibilang siap ana pengennya beberapa tahun lagi. Imran yang merasa mempunyai kapasitas sesuai yang disampaikan Ria seperti punya harapan untuk berjodoh dengan Ria. Sambil merenung dan menatap jauh ke depan, Imran hanya berkata dalam hatinya “ tunggulah ukhti ana sedang memantaskan diri”.
Selepas sholat, dalam doanya Imran tak jarang menyempatkan untuk mengadukan hatinya terang-terangan kepada Allah yang maha membolak-balikan hati.
“Ya Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbiy ‘alaa Diinik wa Yaa Musharrifal Quluub, Sharrif Qalbiy ‘alaa Thoo’atik”
“Wahai Dzat yang Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku pada agamamu, Islam. Wahai Dzat Pengubah Kondisi Hati, tetapkanlah hatiku pada ketaatan kepada-Mu.”
“Ya Allah, bila hamba berjodoh diatas dunia ini maka perkenankanlah hamba berjodoh dengannya. Dan bila hamba tidak berjodoh didunia ini maka istiqomahkanlah hamba hingga hamba bisa berjodoh dengan bidadarimu di surga nanti Ya Allah, Aamiin”.
Imran yang belum menemukan jawaban atas doa-doanya tetap istiqomah serta sabar dalam penantian, baginya belum menemukan jodoh bukan berarti ia berhenti dalam hijrahnya. Setelah hijrah dia telah memahami bahwa dunia bukanlah tujuan akhir tetapi awal untuk kehidupan yang kekal di akhirat.
Sekian................!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar