Selasa, 30 Oktober 2018

Musibah Yang Menegurku Berhijrah

 

Ini adalah kisahku bagaimana aku memulai hijrah, berawal dari kehidupan yang tak menentu yang kujalani. Aku adalah seorang remaja yang masih dalam pecarian jati diri. Aku yang belum terlalu kenal dengan siapa diriku yang sebenarnya, selalu mencoba melakukan apa yang menjadi keinginan dalam hatiku. Mengikuti ajakan teman untuk mencoba hal baru yang lagi ngetrend, merokok, hura-hura, balap liar, keluyuran tak jelas, merupakan keseharian yang pernah kujalani bersama teman-temanku dikala itu. Bahkan disaat malam menjelang, kami pun tak jarang mengganggu para gadis yang keluar rumah hanya untuk mendapatkan nomor handphonenya. Semua kejailan yang kami lakukan itu mungkin juga banyak meresahkan orang lain, barangkali tak sedikit anak gadis yang jengkel karena ulahku dan yang teman-temanku lakukan. Awalnya semua itu kulakukan hanya iseng-iseng untuk menghibur diri. Namun seiring berjalannya waktu, lama kelamaan aku mulai merasa tidak nyaman berada dalam zona tersebut. Aku tahu yang kulakukan selama ini salah dan tidak baik bila kuteruskan tapi aku juga ragu harus mulai dari mana untuk menghentikannya.

Suatu malam sekitar pukul 20.15 WIB, aku berencana pergi nonton ke sebuah acara festifal tahunan yang diadakan di daerahku. Dimana malam itu adalah acara puncak dari festifal yang sedang diselenggarakan. Penasaran dengan kemeriahan acara tersebut, aku pun pamit pada ibu untuk pergi. Sewaktu aku akan keluar rumah tiba-tiba saja ibu melarang ku pergi. “Wan, malam ini kamu jangan pergi keluar tidur dirumah saja, karena besok pagi kamu yang harus mengantarkan si bontot pergi sekolah karena ibu sama bapak mau berangkat kerja pagi-pagi sekali”. Aku yang sudah biasa keluar malam tidak mengindahkan nasihat ibuku malam itu, sambil melangkahkan kaki keluar rumah aku menjawab “iya buk, besok aku antarin, pokoknya ibu tenang saja pagi-pagi besok aku sudah pulang buk”.

Aku yang sudah keluar rumah langsung mengambil motor jenis bebek manual dan menyalakannya terus pergi. Diperjalanan, sekitar 1 Km dari rumah tiba-tiba saja bohlam sepeda motorku padam. Aku yang tak sabar ingin melihat kemeriahan acara itu terus melanjutkan perjalanan dengan motor tanpa lampu. Sebenarnya dirumah aku masih punya satu lagi motor jenis klasik. Akan tetapi aku sempat ragu-ragu untuk menukarnya ke rumah karena temanku mungkin sudah menunggu. Akhirnya aku putuskan untuk menerobos malam dengan kegelapan.

Sekitar satu Km kemudian di jalanan yang sepi, dari arah yang berlawanan aku melihat sebuah motor dengan kecepatan tinggi sedang melaju kearahku. Sepeda motor itu terlihat seperti bukan dijalurnya lagi. Dan benar saja hanya dalam hitungan detik motor itu langsung menabrak motorku hingga aku terpental dan keluar dari jalan. Aku yang masih dalam kondisi sadar merasa kaku dan tidak berdaya, hanya bisa telentang diatas dinginnya rumput yang ada ditepi jalan malam itu. Sambil menatap langit yang penuh dengan bintang aku mengucapkan lailahailallah muhamadarrasulullah karena saat itu yang terlintas dalam pikiranku adalah kematian.

Beberapa saat setelah terjadinya tabrakan, orang-orang mulai ramai berlarian ke tempat dimana aku kecelakaan. Mereka yang menemukanku dalam kondisi sadar langsung menanyakan keadaan serta identitasku. Kemudian aku jelaskan siapa aku dan bagaimana keadaanku. Aku merasa tanganku yang sebelah kiri mati rasa dan tak bisa di gerakkan. Lalu diantara kerumunan orang itu ada yang mengenaliku dan langsung membawaku ke rumah sakit terdekat. Sesampainya dirumah sakit, aku di sarankan untuk diruk kerumah sakit yang lebih canggih untuk mengetahui keadaan bahuku yang mulai membengkak. Namun aku menolak untuk dirujuk dengan alasan aku tak mau dioperasi. Akhirnya aku di bawa pulang ke rumah dengan alasan memilih pengobatan tradisional tanpa operasi.

Sempat aku salah berobat, yang mana bengkak yang aku rasakan makin sakit dan tak ada kemajuan apa-apa. Tiga hari kemudian teman-teman keluarga besar tempat aku bekerja datang menengokku ke rumah. Melihat kondisiku yang makin memburuk, mereka menyarankan untuk berobat ke tempat alternatif yang lain. Ternyata aku mengalami patah tulang, lalu aku menjalani serangkaian pengobatan hingga bengkak dan rasa sakit itu mulai hilang. Selama dua minggu aku hanya bisa tidur terlentang, saat itulah aku merasakan bahwa aku telah kehilangan nikmat yang selama ini Allah berikan padaku. Nikmat yang selama ini kurang aku syukuri dan aku telah kufur terhadap nikmat yang telah Allah berikan. Mungkin apa yang aku rasakan saat itu adalah teguran dari Allah untuk menyadarkanku agar lebih mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan dan lebih patuh terhadap nasehat kedua orang tua.

Tiga bulan berlalu aku belum bisa berbuat apa-apa hanya bisa beristirahat dirumah. Saat itu saya betul-betul merasa menjadi  orang yang tidak berguna sama sekali. Hingga aku berjanji pada diriku jika Allah nanti memberikanku kesempatan untuk merasakan kembali nikmat kesehatan yang dulu, aku akan menjadi orang yang lebih baik lagi dan akan lebih mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan.

Semenjak saat itu aku pun meninggalkan segala kebiasaan yang sering aku lakukan bersama kawan-kawanku. Bahkan aku juga tidak begitu sering bertemu dengan mereka. Rasulullah memang melarang kita memutuskan tali silaturahmi, namun memilih orang yang tepat untuk dijadikan teman itu sangat perlu. Sesuai dengan hadist Rasulullah “Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Selama nafas masih berhembus, selama jantung masih berdetak, selama nyawa masih dibadan jangan pernah sia-siakan kesempatan yang Allah berikan untuk menggunakan hidup yang sebentar ini untuk berbuat kebaikan. Belum terlambat untuk kita bertaubat kepada Allah. Semoga kita semua dilimpahkan hidayah untuk kembali hijrah kejalan Allah dan istiqomah dijalannya, serta menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa menyuruh kepada yang baik dan mencegah kepada yang mungkar. Mudah-mudahan kita semua mendapat ampunan dari Allah SWT dan menjadi penghuni surganya diakhirat nanti. Aamiin


Kamis, 25 Oktober 2018

Tunggulah Ukhti Ana Sedang Memantaskan Diri

        Tak seorang pun manusia yang tahu dengan siapa dia akan berjodoh. Sebab jodoh merupakan rahasia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya. Sementara cinta adalah perasaan ingin memiliki sekaligus rasa takut untuk kehilangan. Rasa itu sering muncul dengan sendirinya tanpa ada rencana dari orang yang mengalaminya. Mereka yang merasakan cinta akan berupaya untuk mendapatkan, menjaga dan memiliki apa-apa yang dicintainya. Cinta yang hakiki adalah cinta yang diridhai oleh Allah SWT. Dimana mereka yang sedang jatuh cinta berkomitmen untuk saling menjaga dan tidak melampaui batasan-batasan yang telah Allah tetapkan. Menghalalkan cinta adalah dengan jalan pernikahan bukan pacaran. Cinta yang suci akan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan cinta yang salah akan cendrung mengajak kepada kemaksiatan, karena perasaan itu datangnya bukan dari Allah melainkan dari godaan setan.

         Setiap orang pasti menginginkan jodoh yang terbaik dalam hidupnya. Begitu juga dengan Imran seorang pemuda yang sedang melanjutkan studinya di sebuah perguruan tinggi.  Dia memiliki fisik yang biasa saja, tinggi, agak sedikit kurus dengan paras yang apa adanya. Imran merasakan jatuh cinta pada seorang gadis berhijab syar’i yang dikenalnya sejak 3 bulan yang lalu. Gadis itu bernama Ria Sartika, dia merupakan mahasiswa satu kampus dengan Imran namun beda jurusan. Ria memiliki kepribadian yang baik, taat beragama, pintar, tentunya yang pasti solehah sesuai dengan kriteria wanita idaman Imran. Disamping itu Ria juga memiliki paras wajah yang cantik meskipun dia tak pernah menggunakan make up. Imran yang tidak punya keberanian untuk menyatakan perasaannya pada Ria merasa minder dengan segala kesempurnaan yang dimiliki Ria. Dia merasa bingung lantaran tidak tahu harus berbuat apa. Pernah terbesit dalam benak pikirannya untuk menyatakan perasaannya kepada Ria. Namun hal itu tak pernah terwujud dikarenakan Imran takut bila perasaannya ditolak dan Ria tidak mau kenal dengannya lagi. Akhirnya dia menyimpan perasaannya itu jauh dilubuk hatinya yang paling dalam.

          Imran yang sadar akan segala kekurangan yang dimiliki, membuatnya merasa malu dan merasa menjadi laki-laki yang tidak tau diri bila tetap menyatakan perasaannya kepada Ria yang kelebihannya hampir mendekati sempurna. Pupus sudah harapan Imran untuk berjodoh dengan wanita solehah idamannya.

        Suatu ketika Imran mendengarkan tausiah yang membahas tentang jodoh. Dimana dalam tausiyah itu disampaikan bahwa “Wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah untuk wanita wanita yang keji pula. Dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik adalah untuk wanita wanita yang baik pula”. (QS An Nur : 26). Merasa jelas dalam firman tersebut bahwa Allah memberikan jodoh berdasarkan akhlak dari hamba Nya tersebut, Imran memutuskan untuk memperbaiki diri terlebih dahulu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan Nya agar kelak mendapat jodoh yang baik pula.

           Hari demi hari mulai dilalui Imran dengan semangat memperbaiki diri. Dengan tekat yang kuat dari dalam hati Imran semakin taat dalam beribadah. Menjalankan ibadah yang wajib bukanlah menjadi beban bagi Imran karena dia menjadikannya sebagi kebutuhan. Ya, kebutuhan rohani seorang muslim. Bahkan disamping ibadah wajib itu ibadah sunah pun sekarang sering ia lakukan. Mulai dari yang kecil seperti memelihara jenggot, memotong kumis, sampai ibadah sunah yang berat seperti berpuasa dan sholat malam pun sekarang sudah seperti sebuah kebiasaan baginya.

             Dia yang dulunya seringkali galau memikirkan soal perasaannya pada Ria sekarang menjadi tenang dan damai sejak ia menyandarkan hatinya kepada Allah. Namun bukan berarti perasaannya kepada Ria hilang. Perasaan itu tetap ada karena dia mencintai Ria bukan dari paras, harta atau pun keturunan melainkan karena akhlak mulia yang dimiliki Ria yang tak dimiliki gadis lain. Setiap perasaan akan menjadi beban bila tidak diekspresikan. maka Imran lebih memilih mengekspresikan perasaan tersebut dalam doa dan keluh kesahnya kepada Allah dengan bertahajud.

                      Selama Imran memperbaiki dirinya hubungan komunikasinya dengan Ria terbilang baik namun tidak terlalu intens, mengingat Ria bukan tipe gadis yang suka diajak chating berlama-lama. Dalam chating pun Imran sempat menanyakan “seperti apa laki-laki yang menjadi idaman Ria?”. Ria pun tentu menjawab “laki-laki yang ana inginkan adalah laki-laki yang soleh, tidak merokok, tidak pemabuk, tidak pejudi, bertanggung jawab terhadap keluarga, yang mau setia mencintai ana sampai ajal memisahkan, dan tidak menyakiti perasaan ana dengan berpoligami”. Kemudian Imran bertanya lagi apakah laki-lakinya itu kaya dan tampan?. “Ana tidak mempersoalkan masalah kaya atau tampannya, yang terpenting bagi ana dia itu laki-laki yang soleh yang bisa membimbing ana ke surga. Kalau pun dia kaya dan tampan ana hanya menganggap itu bonus dari Allah” jawab Ria. “Lalu apakah kamu sudah menemukan laki-laki yang seperti itu?” tanya Imran lagi. “Belum” jawab Ria. Kemudian Imran bertanya lagi “Seandainya laki-laki seperti itu sekarang kamu temui dan dia ingin melamarmu apa yang akan kamu lakukan?”. Kemudian Ria pun menjawab “ Bila memang dia jodoh ana maka ana akan terima’. “Lalu bagaimana dengan kuliahmu nanti? Apa kamu memang sudah siap menikah” tanya Imran. “untuk kuliah bagi ana itu bukanlah persoalan, kalau dibilang siap ana pengennya beberapa tahun lagi. Imran yang merasa mempunyai kapasitas sesuai yang disampaikan Ria seperti punya harapan untuk berjodoh dengan Ria. Sambil  merenung dan menatap jauh ke depan, Imran hanya berkata dalam hatinya “ tunggulah ukhti ana sedang memantaskan diri”.

        Selepas sholat, dalam doanya Imran tak jarang menyempatkan untuk mengadukan hatinya terang-terangan kepada Allah yang maha membolak-balikan hati.

“Ya Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbiy ‘alaa Diinik wa Yaa Musharrifal Quluub, Sharrif Qalbiy ‘alaa Thoo’atik”

“Wahai Dzat yang Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku pada agamamu, Islam. Wahai Dzat Pengubah Kondisi Hati, tetapkanlah hatiku pada ketaatan kepada-Mu.”

 “Ya Allah, bila hamba berjodoh diatas dunia ini maka perkenankanlah hamba berjodoh dengannya. Dan bila hamba tidak berjodoh didunia ini maka istiqomahkanlah hamba hingga hamba bisa berjodoh dengan  bidadarimu di surga nanti Ya Allah, Aamiin”.

            Imran yang belum menemukan jawaban atas doa-doanya tetap istiqomah serta sabar dalam penantian, baginya belum menemukan jodoh bukan berarti ia berhenti dalam hijrahnya. Setelah hijrah dia telah memahami bahwa dunia bukanlah tujuan akhir tetapi awal untuk kehidupan yang kekal di akhirat.

Sekian................!!!!!